01. Puisi dalam Renungan

Hamba yang tak berdaya

Ya Allah,

Air mata mengalir tanpa sebab.

Mengalir dengan deras bagaikan badai senja.

Apakah ini sebuah pertanda ?

Pertanda, akan saatnya aku berjumpa dengan-Mu.

Tapi aku sadar akan beribu dusta, salah, dan dosa yang ku lakukan,

Aku tak pantas untuk bertemu dengan Mu , walau hanya sekedar bayang-Mu.

Ya Allah,

Kakiku terlalu rapuh untuk tetap berdiri didunia.

Terlalu lemah untuk tetap menyongsong masa depan yang belum teraba.

Terlalu tak berdaya, bila tanpa hidayah dari Mu.

Ya Allah,

Mataku buta dalam dunia ini.

Aku tak dapat melihat masa depan dan akherat-Mu,

Aku tak dapat membedakan ahli surga dan ahli neraka,

Namun aku selalu mengimanni.

Engkau yang akan menuntunku menuju shiraathal mustaqiim.

Ya Allah,

Aku tak mendengar suara apa pun didunia ini.

Semua hening, diam tak bersuara.

Hanya jeritan dari neraka yang seakan-akan ingin menjemputku.

Apakah ini sebuah pertanda ?

Pertanda, akan panggilanku menuju dunia yang lebih abadi.

Ya Allah,

Aku lah hamba-Mu, yang terkadang tak mendengarmu.

Aku lah hamba-Mu yang lumpuh dan tak berdaya.

Aku lah hamba-Mu yang hanya mampu memohon dan meminta.

Dan aku pun tau, aku adalah hamba-Mu yang berlumuran dosa.

Namun, izinkanlah aku Ya Allah.

Bertemu dengan-Mu di surga.

Ya Allah,

Bukan karena keindahan surga ku memujamu,

Bukan karena kejelekkan neraka ku takut padamu,

Tapi karena aku mencintaimu dan layaknya seorang kekasih,

Aku ingin bertemu engkau dalam keadaan terbaiik, di tempat terbaik, di surgamu J

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: